Minggu, 25 Oktober 2009 pada pukul 19:20:00 | 16 komentar

Malam itu bulan telah menampakkan wajahnya. Kulihat ribuan bintang bertahta diatas kertas hitam yang seolah tergantung tanpa tiang dan penyangga. Berdiri aku diatas batu yang ada ditengah bukit hijau di belakang rumahku. Kemudian kurentangkan tanganku dan aku berkata dan bertanya kepada satu bintang di langit.
"Wahai bintang, Apakah sebenarnya persahabatan itu?"
Bintang itu membuat sedikit gerakan. Seolah hidup, bintang itu berputar dan bergeser sedikit dari tempatnya berada. Kibasan ekornya yang berwarna jingga sungguh indah.

Tak lama kemudian bintang-bintang lain ikut bergerak, dan mulai berkumpul menjadi satu. Merah, Kuning, Hijau, Putih, Biru, gemerlap cahaya bintang memenuhi langit. Ekor panjang mereka seolah sengaja mereka kibaskan dengan penuh gejolak warna. Seperti kuas yang menyapu kanvas. Seolah lukisan yang tak ternilai. Sungguh indah, mereka berkumpul menjadi ribuan titik warna yang seolah sedang mengadakan suatu rapat besar.

Kutunggu jawaban itu tak pasti. Aku berharap mereka memberikan jawaban itu dengan jelas, sehingga aku pun bisa mengerti dengan jelas. Titik-titik warna itu kemudian pecah seperti kembang api yang meletup. warna hijau, merah, kuning, biru memenuhi langit sekali lagi. Tapi beberapa detik kemudian, cahaya itu mulai meredup. mulai hilang satu persatu mereka menjauh dari posisi dimana aku berdiri. Aku berlari mengejar mereka. Aku terus berlari menapakkan kakiku diatas rumput hijau lembab. Aku terus berlari, tapi aku bingung. Aku bingung harus kemana, aku berlari tanpa arah. Mereka menjauh menyebar dari posisiku. Seolah mereka jatuh entah kemana.
Aku pun jatuh duduk termenung. Tak terasa air mataku pun keluar dan jatuh.

Aku tak menyangka, bahkan bintang pun tak mau merespon pertanyaanku. Entah mengapa? Aku terus duduk termenung. Kumasukkan kedua kepalaku diantara kedua lututku. Kuterisak sendiri tanpa seorangpun tahu.
Lama aku terisak.
Dan kemudian, dari kejauhan kulihat bola biru bercahaya kecil seukuran bola Kasti. Dia melayang mendekatiku. Terus melayang, hingga dia berputar putar di atas kepalaku. Aku pun berdiri. Dia melayang terus mengelilingi tubuhku. Tapi dia pergi menjauh lagi. Menjauhiku, kukejar tapi tak bisa. Aku kembali putus asa. Kubalikkan tubuhku, lalu kuberjalan ke arah dimana aku tadi duduk.

Langkah pertama, kedua, ketiga, keempat, terus kutapaki langkahku dengan penuh putus asa. Tapi, tak beberapa lama kemudian, bintang biru itu kembali. Aku berbalik dan menoleh. Mataku terbelalak, betapa terkejutnya aku. Ribuan bintang penuh warna ada di sekelilingku. Sungguh indah. Mereka membawa partikel cahaya dengan warna berkilau. Aku berjalan mendekati mereka, mereka pun melayang mengelilingiku. Mereka seolah menciptakan sebuah tarian. Kudengar suara seperti ketukan kuku jari diatas meja yang berirama. Mereka bernyanyi dan berdendang. Yah meski sayang, aku tak mengerti nyanyian mereka. Mereka terus melayang. Partikel cahaya berwarna-warni terus bertebaran. Juga kelopak bunga mawar putih dan merah memadu dan saling bertebaran diatas tanah. Sungguh indah dan harum. Entah kapan dan dariman mereka mengambil kelopak bunga itu.

Cahaya biru, merah, kuning, hijau, putih, patikel itu terus mengeluarkan cahaya. Hingga bukit saat itu sungguh terang. Terang oleh warna-warna ajaib sang Bintang. Mulutku yang tadinya terus membeku karena keputusasaan. Sekarang terbuka lebar, penuh senyum. Kuterus tersenyum dan tertawa. Bahagia rasanya melihat kemilau cahaya bintang, dan harumnya kelopak mawar yang terus melayang dan tak pernah sekalipun mereka jatuh.

Namun kebahagiaanku ini kemudian sedikit kusingkirkan, karena aku teringat oleh tujuanku awal tadi. Aku teringat akan pertanyaanku tadi.

"Wahai bintang, lalu apa jawabannya..... Apa kalian mau menjawab pertanyaanku tadi?" Aku berkata dengan suara memohon.
Ribuan bintang itu tiba-tiba berhenti melayang, mereka diam. Sunyi terasa di sekelilingku. Mereka berhenti. Mereka hanya melayang diam. Cahaya mereka pun mulai meredup. Hatiku kembali resah, aku takut mereka meninggalkanku lagi. Tapi kemudian mereka dengan cepat melesat ke atas. ekor mereka terlihat semakin panjang dan indah. Mereka melesat kembali ke langit tinggi, dan semakin tinggi. kemudian cahaya mereka hilang tanpa bekas, dan sedetik kemudian, seperti tongkat sihir yang memercikkan cahaya, mereka bersinar sangat terang dan indah. Lebih terang dari semua cahaya bintang yang pernah aku lihat selama ini. Mereka kemudian berjajar dan membentuk sebuah barisan. Mereka secara rapi berbaris membentuk sebuah pola.
Lama aku terus melihat keajaiban ini. Awalnya aku tak mengerti pola apa itu. Kemudian semakin banyak bintang yang membentuk pola itu, aku mulai mengerti.

Dua pasang tangan yang memegang sebuah bentuk yang sayangnya aku masih belum jelas, karena terlalu rumit bagiku. Semakin banyak bintang berkumpul. Aku pun mula menerka bentuk apa itu, dan akhirnya terbentuklah bentuk itu.
Kini aku mengerti, bentuk yang mereka buat. Dua pasang tangan yang memegang sebuah bentuk hati berwarna merah menyala dengan inti hijau di tengahnya.
Tangan itu berwarna kuning emas bercampur warna putih berkilau. Terus menggenggam erat hati berwarna merah itu seolah takkan pernah melepasnya. Bibirku mulai terbuka, aku tertawa, tapi air mataku juga terus jatuh. Aku terus tertawa. Dan air mataku pun terus jatuh.
"Terima Kasih bintang, Terima Kasih. Kau sungguh makhluk Tuhan yang indah. Terima Kasih Bintang."
Kubentangkan tanganku, kemudian ku berteriak.....
"Akhirnya, aku tahu apa artinya. Ahhhhhh....."
Terus ku berteriak.....
Kemudian aku merebahkan tubuhku. Kupejamkan mataku, kemudian aku merasa cahaya bintang mulai menghilang dari pandanganku. Suara gemerisik nyanyian bintang itupun mulai sedikit demi sedikit hilang di telingaku.
Keesokan harinya, aku terbangun. 'Dimana aku?' Pikirku, karena yang kulihat sekarang adalah atap berwarna biru cerah dengan tempelan-tempelan abstrak yang sangat halus dan lembut berwarna putih. Padahal sebelumnya aku merasa melihat ribuan bintang menari. Tak lama kemudian, aku baru menyadari, ternyata yang kulihat sekarang adalah hamparan langit luas di atas bukit di belakang rumahku. Aku duduk dari posisi telentangku. 'apakah aku hanya bermimpi'. Tapi pikiranku ini ternyata salah, karena setelah kubuka genggaman tanganku, kulihat butiran partikel cahaya warna-warni masih menempel di tanganku. Aku tersenyum, dan sadar bahwa malam itu bukanlah mimpi. Segera aku bangun dari mimpiku. Aku berlari menuju rumahku, kencang, sangat kencang. Kudorong pintuku keras-keras.
"Apa yang terjadi, Nak?" Ibuku bertanya karena kaget melihatku.
Tapi aku hanya tersenyum kecil. Kunaiki tangga, lalu berbelok dan aku berhenti tepat didepan kamarku. Kubuka pintu kayu kamarku. Kuberhenti sebentar sambil mengatur nafasku. Kakiku kemudian melangkah pelan menuju sebuah meja kayu kecil rendah. Kupandangi sebuah frame foto berwarna putih merah dengan hiasan kucing kecil dibagian pojoknya. Kulihat bagian dalam frame itu, kuambil dan kupegang foto bagian dalamnya.
Kusentuh satu persatu gambar dalam foto itu. Kini kumerasa, merekalah yang harusnya kupercaya. Pada merekalah seharusnya kupercayakan hatiku. Ian, Inka, Didit, Unji, Laila, dan semuanya. Para sahabatku, disanalah seharusnya kutempatkan hatiku. Karena seperti itulah yang dipesankan oleh para bintang. Seperti itulah Persahabatan yang diartikan oleh bintang. Kepercayaan, kebersamaan, dan saling membagi perasaan masing-masing. Itulah sahabat. Itulah Arti sesunguhnya persahabatan.

[+] Lanjutan.....


Penulis
L u k m a n u l C h a k i m | S M K N 4

Cerita kedua datang dari pertigaan tol porong. Di depan jalan masuk tol porong persis. Waktu itu aku sedang menuju ke Surabaya bersama temanku naik sepeda motor. Karena kupikir aku dibonceng, jadi aku cuma memakai helm non-standar, alias orang Malang bilang helm Cibuk (Gayung). Karena di Malang Helm non-standar seperti ini masih diperbolehkan bagi orang yang dibonceng. Tapi aku tak tahu kalau di Sidoarjo dan Surabaya, helm seperti ini tak diperbolehkan.

Dan akhirnya, tepat di depan jalan masuk tol porong, aku dihentikan oleh seorang anggota polisi. Katanya, "Mas, kena tilang, karena helm-nya bukan helm standar. Mana STN dan SIM." Kemudian temanku memberikan SIM dan STN miliknya. Polisi itupun berkata "Okay, ikut saya ke dalam." Saya masuk kedalam sebuah tenda yang gak terlalu besar berwarna biru tua. Didalam sana saya langsung ditanya "Mas, kena tiga puluh lima ribu." terus polisi satunya bertanya "Disini atau pengadilan." Temanku menjawab, "Disini saja pak." Karena Temanku pikir, kalau motor ini disita, gimana kami bisa nyampe ke Kantor di Surabaya. Sedangkan waktu itu sudah jam 8, padahal kami sudah harus berada di kantor pukul 9. Kan gak mungkin kalau kami harus nunggu surat tilang dulu.

Jadi akhirnya kami milih damai, tapi kemudian sedikit nyeletuk "Waduh pak, jangan 35. Gak punya uang nih, sepuluh aja ya." Polisinya jawab "Wah le, dhuwit opo sepuluh iku... (Waduh nak, uang apa sepuluh ribu itu?)" Kemudian aku nawar lagi "Yo wis pak, dua puluh yo... (Ya udah pak, dua puluh yah)" Lalu kata polisi satunya lagi "Ya udah lah duapuluh, Kesuwen (Kelamaan)." Lalu temanku memberikan uang lima puluh ribu dan diberi kembalian tiga puluh ribu. Hahaha... Aneh yah... peraturan kok bisa ditawar.

Aku jadi inget, aku pernah tanya sama seorang polisi yang yah bisa dibilang sudah punya kedudukan di polda Jawa Timur, cuma aku lupa jabatannya apa. Istrinya kebetulan langganan ibuku. Aku yang saat itu masih kelas satu SMK pernah menanyakan sebuah pertanyaan "Pak, kenapa sih polisi itu mau nerima uang 'DAMAI' saat nilang orang." Lalu orang itu tersenyum, dan berhenti sebentar. Kemudian menjawab "Begini, kalau masalah itu sebenere keduanya sama salahnya, tapi yang lebih salah, malah yang ngasih duit, alias yang kena tilang. Kenapa dia yang seharusnya kena tilang kok malah minta damai dan ngasih uang. Nah karena polisi juga manusia biasa yang butuh uang, jadinya yah diterima aja." Kemudian aku dan orang itu tertawa bersama. Di hati kecilku aku berpikir, bisa aja polisi ini jawab. Padahal seharusnya sebelum masuk menjadi anggota Kepolisian Indonesia, mereka sudah disumpah untuk selalu mengabdi pada bangsa Indonesia. Tapi apa sumpah ini cuma bo'ongan. Hoho... Aku tak tahu.

Tapi bukan maksudku untuk njelek-njelekin Kepolisian Indonesia secara keseluruhan. Aku tahu yang ngelakuin kayak gitu gak semuanya. Cuma beberapa oknum. Toh kalo mereka ketahuan atasan, juga pasti ditegur. Tapi aku cuma heran aja, padahal dulu pernah aku dapet cerita dari seseorang yang pernah ikut tur ke Jepang. Saat itu dia naik bus keliling kota Tokyo. Nah karena kebiasaan orang Indonesia jam karet, jadi mereka keluar dari hotel sedikit terlambat. Dan karena kebudayaan kita yang Jam karet berbeda dengan kebudayaan Jepang yang selalu tepat waktu, maka temanku ini kaget karena saat masuk bis, para rombongan dari Indonesia itu dikenai denda karena keterlambatan mereka dalam perjalanan. Tour Guide Jepang yang memimpin rombongan menjelaskan, itulah peraturannya. Jika terlambat, maka akan dikenai denda atas keterlambatan itu. Temanku hanya tertawa kecil, sambil menyerahkan uang denda. Dia hanya berpikir, pantas negara kita gak maju-maju, jangankan rakyat kecil, bahkan pejabat pemerintahan kelas atas pun gak pernah lepas dari pelanggaran peraturan. Bayangkan aja aturan sekecil itu bahkan diperhatikan di Jepang. Yah itulah, seperti kata peribahasa Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya. Hehehe...

[+] Lanjutan.....

Kategori: ,

Penulis
L u k m a n u l C h a k i m | S M K N 4

Wah cerita pertama datang 2 bulan lalu, saat aku diajak oleh temanku ke sebuah tempat di Surabaya. Sebenere aku yakin udah banyak orang tahu tempat ini. Yah gimana gak tahu, Tempat hiburan malam terbesar Asia Tenggara. Hahaha... Aneh, Indonesia sebagai negara dengan Penduduk muslim terbesar di dunia memiliki tempat hiburan malam terbesar. Waduh lucu yah..... Hahahaha..... "DOLLY", Dengar nama itu sih kayaknya biasa, padahal, bagi orang Surabaya, nama itu menjadi nama pujaan bagi yang senang pergi ke sana. Kalo dibilang resmi sih, emang kayaknya resmi, soalnya tak liat ada polisi, hansip, bahkan tentara. Aneh ya... Itukah yang seharusnya diamankan.

Padahal sudah menjadi rahasia umum, kalo tempat itu bukan hanya tempat hiburan malam semata, tapi juga hiburan para pejantan. WAduh...waduh.... Ngomongnya jadi gak enak nih. Yang jelas, Bahkan UU Pornografi udah turun. Tapi kok masih bisa tempat segedhe itu ada. Tapi terserah lah... Kan itu urusan pemerintah, hehehe.... Aku hanya membayangkan, gimana perasaan mereka yang terlibat di dalamnya, terutama para pelaku utamanya. Yang kumaksud para wanita yang selalu duduk di sofa depan wisma-wisma disana. Apa yang mereka rasakan, gimana perasaan mereka. Apa mereka terpaksa?


Dulu saat aku SMP, aku pernah membuat tugas tentang anak jalanan dan para orang malam di daerah Malang. Saat itu kebetulan aku mendapat tugas mewawancarai salah satu waria di daerah stasiun kota Malang. Untungnya aku punya kenalan waria disana. Dulu dia sahabatku, tapi dia menjauh dariku sejak dia memilih untuk merubah status gendernya. Dia menjauh dari semua orang yang pernah dekat dengan dia termasuk keluarga dan sahabatnya. Tapi alhamdulillah dia masih bisa kuhubungi dan aku tak perlu susah-susah mencari di stasiun.

Awalnya niatku aku pengen ngewawancara dia, tapi dianya gak mau, dan akhirnya aku diperkenalkan dengan seorang temannya yang juga seorang waria. Aku pun memulai wawancaraku. Yang pertama kuwawancara jelas nama dan alamat dimana dia tinggal. Lalu kumulai masuk ke dunia pribadinya. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata dia telah mempunyai istri dan 2 anak. Aku pun bertanya, apakah istri dan anaknya tak tahu. Dia hanya menjawab "Lek bojoku yoh ngerti mas, tapi lek anakku yo ojok sampek eruh, saaken aku (Yah kalau istriku sih tahu mas, tapi kalau anakku ya jangan sampe tahu, kasian kalau mereka sampe tahu)."

Sebenarnya bapak ini punya pekerjaan utama. Dia adalah seorang tukang becak. Tapi dia mengaku tak cukup kalau hanya mengandalkan becaknya. Dia mengaku kesulitan mencari nafkah untuk biaya anaknya yang masih sekolah. Dia hanya tak tega kalau sampai anaknya putus sekolah. Dan dia juga tak tahu harus berbuat apa lagi. Saat aku berjalan pulang, aku terus memikirkan kasus bapak ini. Bagaimana tidak, seorang bapak harus menjadi waria karena memiliki tanggungan istri dan kedua anaknya. Entah bagaimana dia bisa menjalani kehidupan seperti itu. Memikirkannya saja aku sudah sulit. Mengingat cerita itu, saat aku melihat para wanita yang duduk di sofa wisma-wisma DOLLY, aku selalu membayangkan bapak itu. Aku terus bertanya, apakah mereka terpaksa melakukan itu? Yah itulah keadaan sekarang, karena terpaksa, orang berani melakukan apapun untuk hidup. Akupun juga tak bisa membayangkan jika aku jadi seperti mereka. Entahlah..... Hanya ALLAH yang tahu.....

[+] Lanjutan.....

Kategori: ,

Penulis
L u k m a n u l C h a k i m | S M K N 4

Wahahah, gak krasa, udah lebaran lagi. Bahkan posting lebaranku tahun lalu masih ada. Waduh blogku udah jadul banget gak tak update. Tapi mau gimana lagi, udah gak ada kesempatan. Niat sbenere udah besar banget. Tapi kesempatan gak pernah datang. Wah, tapi hari ini mumpung hari idul fitri, libur panjang, jadi tak posting lagi.
Yang pertama jelas, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Taqobbalallhu minna waminkum taqobbal yaa kariim. Saya atas nama Lukmanul Chakim Sekeluarga memohon maaf atas segala salah ucap kata, maupun perbuatan yang pernah saya lakukan baik sengaja maupun tak sengaja. Karena sebagai manusia, saya sekeluarga juga tak lepas dari perbuatan dosa. Selain itu saya juga mengucapkan

Selamat Hari Idul Fitri 1430 H
bagi seluruh umat muslim sedunia

[+] Lanjutan.....

Kategori:

Penulis
L u k m a n u l C h a k i m | S M K N 4





                
                 AddThis Feed Button



Tentang Penulis

Seorang anak yang lahir di Malang pada Tanggal 26 Februari 1992 tepat pukul 05:10 .26 di Rumah Sakit Ibu dan Anak Nahdlatul Ulama Jl. Aries Munandar. Diasuh oleh orangtuanya mulai bayi hingga sekarang di sebuah rumah sederhana di Jl. Aries Munandar VII/611. Dengan latar belakang keluarga yang sederhana tapi harmonis, bocah yang bernama lengkap Lukmanul Chakim yang berarti Lukman yang Bijaksana ini akhirnya bisa tumbuh dan berkembang seiring dengan berkembangnya waktu. Hingga sekarang ia telah berada di Solo untuk menjalankan masa PSG atau magang Pendidikan yang memang diharuskan oleh sekolahnya selama + 10 Bulan. Karena memang sekolah anak ini adalah sekolah kejuruan yang sudah tersohor di mata warga Malang Raya maupun penduduk Indonesia. SMKN 4 Malang, sebuah sekolah yang berdomisili di Malang, tepatnya di Jl. Tanimbar No. 22 Malang merupakan sekolah berstandar Internasional yang katanya memang sudah memenuhi standar Int. Bocah ini memilih jurusan Multimedia karena memang kegemarannya pada bidang Teknologi dan Informatika yang sangat besar. Dan di tengah kemajuan ilmu TI yang sangat maju ini, Bocah ini terus dan terus selalu bersemangat mengembangkan pikirannya supaya dia tidak termakan oleh jaman yang semakin menuju puncak globalisasi kekuatan bidang TI.




Your Ad Here

Banner Teman

    duniarumah     Relationship Blogs - BlogCatalog Blog Directory

a byte for a soul

Blog Kisara